Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 November 2010

YANG MUDA PUNYA BUDAYA


Dalam upaya menjaga kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, pemerintah harus lebih aktif lagi dalam mengembangkan dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia baik di dalam negeri maupun pada masyarakat internasional. Selain dilakukan oleh pemerintah, hendaknya masyarakat terutama kaum muda juga berperan secara aktif dalam menjaga kekayaan budaya bangsa.


Renaldi Lestianto, seorang mahasiswa jurusan etnomusikologi ISI Surakarta menilai, jika selama ini kaum muda masih kurang kesadarannya terhadap budaya milik bangsa Indonesia. sehingga kedepannya ia mengharapkan agar masyarakat khususnya kaum muda untuk mulai mencintai nilai-nilai lokal yang dimulai dari lingkungan keluarga. Namun ia juga menyadari bila hal tersebut tidak mudah untuk diwujudkan, karena negara kita adalah salah satu negara yang tidak melarang masuknya budaya asing. Bisa dilihat bagaimana budaya asing telah menguasai setiap sudut kehidupan masyarakat dan menyikirkan budaya-budaya lokal yang terdapat di masing-masing daerah Indonesia. 


Renaldi Lestianto dan Agus prasetyo merupakan salah satu kaum muda yang masih memiliki kepedulian terhadap kebudayaan Indonesia. Agus menyukai seni karawitan sejak dirinya masih berumur belasan tahun dan memutuskan untuk mendalami kesenian daerah ini dengan melanjutkan studinya di jurusan Seni Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI Surakarta).
Menurut Agus, kesenian dan kebudayaan Indonesia sejatinya tidak kalah bagus dengan budaya dari bangsa lain, bahkan orang-orang dari negara lain banyak sekali yang mempelajari karena mereka sangat mengagumi akan begitu banyak dan beragamnya budaya bangsa Indonesia. Namun Agus juga mengakui bahwa masih sangat sedikit kaum muda Indonesia yang tertarik untuk mempelajari kebudayaan bangsanya sendiri. Ia secara aktif ikut serta dalam mengembangkan kebudayaan Indonesia khususnya dalam bidang karawitan sebagai komposer gamelan. Bahkan pada tahun ini, ia juga turut andil dalam misi kesenian dan kebudayaan Indonesia di Seoul Korea. Agus berharap dari kegiatan ini nantinya kebudayaan Indonesia dapat lebih di kenal oleh masyarakat internasional.


Karawitan merupakan seni suara yang dihasilkan baik dalam bentuk vokal maupun instrumen. Karawitan berkembang di seluruh wilayah Indonesia dengan berbagai bentuk penyajian. Dalam prakteknya, karawitan biasanya digunakan untuk mengiringi tarian maupun nyanyian daerah. Karawitan sendiri memiliki beberapa nilai moral dan estetika yang cukup mendalam sebagai salah satu kebudayaan Indonesia.
Renaldi Lestianto menerangkan bahwa dirinya tertarik untuk mempelajari kebudayaan Indonesia khususnya Etnomusikologi. Renaldi menjelaskan bahwa Etnomusikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang musik dalam konteks kebudayaan, musik sebagai salah satu simbol kebudayaan yang menggambarkan pola pikir dan perilaku masyarakat dalam perkembangan musik tradisional didaerahnya. Sejauh ini, Renaldi aktif dalam berbagai kegiatan dalam seminar-seminar maupun kegiatan dalam meningkatkan perkembangan budaya Indonesia. Ia juga terpilih sebagai wakil mahasiswa Etnomusikologi Indonesia dalam seminar internasional “seeking root of identity” di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tahun 2009 lalu. Renaldi berharap agar anak muda Indonesia lebih turut aktif dalam mengembangkan seni kebudayaan bangsa, agar identitas negara kita dapat selalu terjaga dan bisa menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan bangsa yang berbudaya.


Marilah bersama-sama kita pelajari kesenian dan budaya bangsa, agar dapat dilestarikan dan dikenal oleh masyarakat internasional. Janganlah kita tiba-tiba marah, berkoar-koar cinta akan budaya Indonesia ketika suatu hari budaya kita di klaim oleh bangsa lain. Bagaimana kita bisa melestarikan kesenian wayang, bila pada setiap pertunjukannya hanya ditonton oleh kaum tua berbekal tongkat di tangan kiri dan rokok tembakau lintingan sendiri di tangan kanan? Ironis ketika melihat banyak orang asing tersenyum puas ketika berhasil membuat motif batik pada sebuah kain, sedangkan kita sebagai rakyat Indonesia masih banyak yang tidak tahu apa gunanya ‘canting’.

Selasa, 02 November 2010

KITA BUTUH BUNG HATTA



Judul diatas saya ambil dari salah satu status facebook teman lama saya seorang fotografer di sebuah majalah. Bung hatta merupakan salah satu tokoh teladan bagi saya. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mencoba mendoktrin teman-teman semua yang membaca blog saya agar ikut untuk meneladani sosok beliau. Indonesia memiliki banyak sekali tokoh yang dapat dijadikan panutan, namun saya tetap kekeuh memilih Bung Hatta sebagai teladan karena dari banyak bacaan yang saya baca, beliau memenuhi imajinasi saya sebagai seorang tokoh heroik yang merelakan hidupnya untuk ikut merasakan kesulitan yang dirasakan oleh rakyatnya pada saat itu.

Dalam salah satu buku biografinya, ia terkenal sangat dekat dengan kedua sekretarisnya yakni Bung Hutabarat dan Bung Wongso. Putra Bung Hutabarat yang bernama Herry Pen bercerita bahwa ketika bung Hatta tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden, beliau bersama-sama dengan ayahnya berbagi penghasilan untuk membuat buku, berjualan perangko dan sebagainya. Kesederhanaan beliau-lah yang membuat sosoknya pantas untuk dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia.

"Bung Hatta adalah seorang pejuang tulen yang sederhana, yang sampai akhir hayatnya tidak dapat membeli sepatu yang diidamkannya. Sebagai pensiunan wakil presiden Bung Hatta juga tak mampu membayar tagihan listrik rumahnya. Kalau sudah begini, rakyat mana yang tak akan menaruh hormat kepadanya?" ujar Rizal Ramli di sebuah acara Renungan Kemerdekaan.

Tak terhitung jasa-jasa bung Hatta bagi bangsa Indonesia, mulai dari memperkenalkan nama “Indonesia” untuk menyebut wilayah Hindia Belanda pada kongres Demokrasi Internasional Untuk Perdamaian di Bierville, Prancis, perjuangan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, hingga berhasil menghasilkan sebuah konsep ekonomi bernama “koperasi".


Berkali-kali ia dibuang ke tempat pengasingan, Namun bagi bung Hatta, Pengasingan dirinya ke Tanah Merah, Boven Digoel (Papua) merupakan pengasingan yang paling berat bagi dirinya. Pada saat itu, kepala pemerintahan disana yakni Kapten Van Langen menawarkan dua pilihan kepada Bung Hatta, yakni bekerja untuk pemerintahan kolonial belanda dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan seadanya, tanpa harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Bung Hatta dengan tegas menjawab “Bila aku berniat bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda dulu waktu masih di Batavia, pasti aku telah menjadi orang besar dengan gaji yang jauh lebih besar pula. Maka tak perlulah aku ke Tanah merah untuk menjadi kuli kolonial dengan gaji 40 sen sehari.” Maka dikirimlah Bung Hatta ke tempat pengasingan di Boven Digoel Papua yang penuh dengan ketidakpastian, ketidaktahuan, dan kebosanan. 

Dalam buku biografinya Bung Hatta bercerita “Digul memang bukan Gulak (kepulauan tempat pengasingan di Rusia), tapi bukan kekejaman yang membunuhmu, melainkan kebosanan, kebosanan dan kebosanan…”

Sebuah cerita tentang kesederhanaan beliau yang selalu berbekas dalam benak pikiran saya adalah kisah tentang sepatu Bally yang tidak kesampaian dibeli olehnya hingga beliau meninggal dunia pada tanggal 14 Maret 1980. Berawal pada tahun 1950, ketika Bung Hatta berminat pada sebuah sepatu ber merk Bally. Sepatu tersebut merupakan sebuah sepatu berkualitas tinggi yang harganya sangat mahal saat itu. Saking kepinginnya Bung Hatta dengan sepatu bally tersebut, ia kemudian menggunting sebuah iklan sepatu Bally yang memuat alamat penjualnya lalu menyimpannya. Setelah itu Bung Hatta berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idamannya tersebut.

Namun, selama bertahun-tahun ia menabung, uangnya tak pernah mencukupi karena selalu habis untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau membantu kerabat dan rakyat yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally tersebut tidak pernah terbeli karena tabungan beliau tidak pernah mencukupi untuk memenuhi keinginannya. Bahkan guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan rapih dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang pahlawan proklamasi.

Padahal, jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memenuhi keinginannya memiliki sepatu Bally tersebut. Namun beliau lebih memilih cara menabung dengan hasil keringatnya sendiri daripada meminta sesuatu kepada orang lain dengan memanfaatkan kedudukannya saat itu untuk kepentingan dirinya sendiri. “Bung Hatta memilih jalan sukar yang sangat lama, yang akhirnya ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri", kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Hhmmm…andaikan saja beliau masih hidup, saya rela menabung untuk membelikan sepatu Bally itu sebagai hadiah ulang tahun untuk beliau.

Saya sangat yakin bahwa Bung Hatta adalah tipe pemimpin rakyat yang bersahaja, berdisiplin dengan tidak berhutang atau bergantung pada orang lain, dan tidak berdiri di atas kebanggaan sebagai seorang penguasa. Namun ia hadir di tengah rakyat, merasakan apa yang rakyat rasakan, menanggung derita sebagaimana yang rakyatnya derita. Satu kata terakhir yang ingin saya ucapkan untuk menutup tulisan ini. KITA BUTUH BUNG HATTA!!

Sumber :
Buku biografi Bung Hatta "Bung Hatta - Pribadinya Dalam Kenangan"
Untuk Banendra Eka Prasetyo, Terima kasih inspirasinya :D

Jumat, 29 Oktober 2010

HAJIMETE

Baru aja saya ngobrol dengan seorang teman sebangku pas waktu sekolah SMP(sekolah menengah pertama) dulu. Namanya Agus Budiawan Naroputra, dia anak UGM dan sekarang sedang melanjutkan kuliah S2 di Graduate School of Agriculture, Ehime University, Jepang. Di bawah ini adalah salah satu tulisan di blognya http://naroputra.wordpress.com/, yang bisa menginspirasi saya, dan mungkin buat teman-teman lain, yang kebetulan membaca blog saya.


Hajimete, bukan nama orang, kawan. Hajimete adalah salah satu kata dalam bahasa Jepang yang berarti pertama kali. Hajimete untuk bikin blog dan hajimete untuk bikin tulisan diblog ini. Yah, yang namanya pertama ya pasti sulit. kebanyakan bingungnya daripada tulisannya.

Gak ada suara jangkrik. apalagi suara anjing melolong. yang ada dan seringkali terdengar hanya suara “klik, klik, klik-klik”, dan “klik”. kalau bisa menjerit, mouse diruangan kami mungkin sudah menjerit. tapi hebat, berkali-kali dipencet dia masih hidup. berbeda dengan mouse BALB/c milik kami yang mati sekali klik saat kami ingin mengambil serum darah atau kelenjar limpanya.

Saat ini, diruang kami masih bertahan 5 orang. dua orang entah dimana, dan tiga orang sisanya bersama saya, ada didalam ruangan dimana meja kerja kami berada. Hampir jam 21 JST (Japan Standard Time) malam ini. wah, jam segitu dimusim gugur seperti ini, lumayan membuat rindu saya akan air panas Ciater meletup-letup, kawan. maklumlah, putra indonesia. Sekarang sih masih 18 C. Gak tau d nanti kalo agak larut malam. *berharap suhunya naik..

Kembali ke klik-klik tadi. kawan bisa bayangkan, minimal kami harus berada dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore dilaboratorium. um?? nah, itu dia yang menjadi culture shock bagi saya untuk pertama kali. h.a.j.i.m.e.t.e. ngapain? saya bingung. tapi pertanyaan tadi cuma saya simpan dalam hati aja. gak mungkinlah serta merta saya tanyaain ke dosen pembimbing saat dia selesai bilang “…sampai jam 5 sore”. bisa langsung ditolak jadi mahasiswanya, saya.

Pasti sudah penasaran ya, udah buru-buru pengen tahu ngapain aja sampe malem begini masih dilab? klo di indonesia, kita umumnya ngelab pas penelitian aja kan? klo disini, kita ngelab gak cuma untuk penelitian. dilab kita bersosialisasi. dilab kita konsultasi, dilab kita bikin laporan. dilab kita membaca. dilab kita mengetik. dilab kita presentasi perkembangan penelitian. dan dilab juga akhirnya saya bikin blog. hehe..

Wah, bener-bener berevolusi jadi manusia lab nih. Disini, mau gak mau harus belajar. ya.. setidaknya tampak seperti orang belajar. internet c ada. cepet bgt malah kalo dibandingin indonesia: 54.0 Mbps. tapi ya masa’ iya, kiri-kanan depan-belakang pada belajar buka-buka textbook dan corat-coret dibuku catatan, eh saya malah chatting, buka FB, ngewit, atau serius ngotak-atik kaskus. nanti pas diskusi dengan sensei dan teman-teman dilab, bisa tampak oon d. dan ke-oon-an saya itu pada akhirnya bisa membuat mereka semua terjebak dalam kesesatan berpikir: orang indonesia itu, ternyata… tiiitt *censored. so, harus banyak belajar nih. bawa nama kampus asal n indonesia, euy.

Dulu, waktu dijogja, saya baca buku pelajaran palingan cuma 1 jam/3 hari (diluar jam kuliah loh). nah klo disini, kita itung aja minimal kita dilab dari jam 9 sampe jam 17. kira2 8 jam dilab. waktu 8 jam itu, anggap aja d buat saya 75%-nya buat chatting, ngobrol dengan orang indonesia lain keluar urus dokumen atau kuliah bahasa, makan, sholat, dll. berarti total sekitar 6 jam. nah, sisanya ada 2 jam buat belajar. wow, perkembangan kemajuan bagi saya nih. bisa jadi kutu buku, dan lama kelamaan istilah ‘obat paling mempan pengantar tidur adalah baca buku’, bisa terfagositosis nih dr kehidupan saya. mantaff..

ah, udah dulu kawan. namanya hajimete, gak usah panjang-panjang. ntar malah bener-bener hajimete doank d.

Menurut dia sih intinya, "Mau pinter, mau Oon kek, kalo belajar terus mah pasti akan keliatan pinter semua kan??" , hahaaha...Thanks ya gus, udah gw share nih tulisan lu. Mari kita sukses bareng2. Insya Allah, amieen.

Selasa, 08 Juni 2010

MARGO FRIDAY JAZZ, FENOMENA JAZZ DI PINGGIRAN IBUKOTA

Bila kita mengunjungi Mal Margo City hari jumat malam, di sayap kiri mal tersebut akan terdengar sayup-sayup alunan musik jazz dari sebuah panggung berukuran empat kali enam meter. Di sinilah para musisi dan penikmat jazz kota Depok berkumpul. Margo Friday Jazz telah setahun lebih diselenggarakan tepatnya sejak 30 Januari 2009, pendirinya adalah Tri budi Warsito atau akrab di sapa Bucheng. Bersama dengan seorang rekannya ia mendirikan sebuah event organizer dengan nama incream –Integrated creative media- yang bergerak untuk mengemas acara-acara pertunjukan musik dan juga beberapa program acara televisi. Bucheng tertarik memilih genre jazz karena sejak masa kuliah ia menyukai musik jazz dan sering membuat event jazz di kampusnya. Dengan pengalamannya di bangku kuliah tersebut ia telah mengenal karakteristik dari penikmat music jazz.

“Jazz itu penontonnya loyal, die hard, Willing to spend. Mau hujan mau panas terik kaya apa juga mereka mau datang, itu sebabnya kenapa saya memilih music jazz untuk di tampilkan disini.” Ujarnya di sela sela acara Margo Friday Jazz beberapa waktu lalu.

Ketika membuat konsep Margo Friday Jazz di depok, bucheng agak sedikit pesimis, karena pada saat itu Depok belum lah berkembang seperti saat sekarang. Lokasi nya yang cukup jauh berada di pinggiran kota Jakarta, kondisi jalan buruk, dan kemacetan yang setiap hari terjadi tanpa henti membuat masyarakat masih menganggap depok sebagai daerah kampung. Namun di balik rasa pesimisnya tersebut, Bucheng memiliki keyakinan bahwa dengan banyaknya perguruan tinggi yang ada di Depok semisal UI, Universitas Pancasila, BSI, Universitas Gunadarma, IISIP, dan beberapa kampus lainnya akan menjadi segment pasar tersendiri. Ia yakin dari kampus-kampus tersebut ada banyak penikmat music jazz yang penasaran untuk datang ke Margo Friday Jazz.
Konsep yang ditawarkan oleh Margo Friday Jazz adalah membuat hiburan musik tanpa tiket masuk. Berada di sisi kiri dari Mal Margo city, berdiri sebuah panggung menghadap sebuah kafe dan restoran dengan jejeran tangga di sebelah kanan maupun kiri panggung. Penikmat music jazz dapat memilih untuk duduk di kafe dengan ditemani secangkir kopi hangat, ataupun duduk di tangga dengan bermodalkan sebotol air mineral.

Margo Friday Jazz merupakan satu-satunya pertunjukan music jazz di Indonesia yang digelar seminggu sekali. Setiap hari jumat malam dimulai pukul delapan malam hingga pukul sebelas malam suara merdu alunan music jazz terdengar disini. Kurang lebih enam band akan tampil setiap minggunya. Malam itu acara di buka oleh penampilan duet Gorga dengan Christian Dylan yang membawakan lagu Fly Me To The Moon milik Frank Sinatra. Sepertinya duet ini sudah banyak dikenal oleh komunitas penikmat jazz disana, tak pelak ketika Gorga mulai melantunkan lirik pertamanya, banyak penonton bertepuk tangan seraya berteriak menggodanya. Petikan gitar Dylan cukup mendominasi dalam lagu yang dibawakannya tersebut. Progresi akornya sederhana, namun ia berhasil berimprovisasi dengan nada yang cukup rumit sehingga menghasilkan vibrasi yang terasa romantis, dan juga eksotis. Lima lagu berhasil mereka mainkan dengan gemilang. Ketika mereka akan menyudahi pertunjukannya, penonton mulai berceloteh meminta Dylan untuk bernyanyi sebuah lagu untuk mereka. Tepukan dukungan agar Dylan menyanyi pun terus bergemuruh semakin kencang, akhirnya ia tak kuasa menolak permintaan tersebut. Sambil memainkan gitar, Dylan memberikan suguhan suara beratnya sebagai penutup pertunjukan mereka malam itu. Penonton pun bertepuk tangan penuh kepuasan.

Seiring dengan berjalannya Margo Friday Jazz, akhirnya terbentuklah sebuah komunitas yang terdiri dari para penonton dan juga pengisi acara yang pernah tampil pada acara tersebut. Mereka menamakan dirinya Margo Jazz Community. Komunitas ini beranggotakan sekitar 60-an band dan juga beberapa penikmat jazz kota depok. Berbagai macam profesi, usia, dan latar belakang berkumpul disini, saling bertukar ilmu, menceritakan pengalaman, dan memberi informasi terbaru seputar jazz. Tujuan dari komunitas ini tidak jauh beda dengan acara Margo Friday Jazz itu sendiri yakni sebagai tempat perform para jazzer muda dan juga tempat berkumpulnya para jazz lovers.

“Gue lebih banyak kenalan senior-senior. Gabung di komunitas ini lebih enak, karena lebih rutin seminggu sekali. Sebelumnya pernah coba di komunitas lain, tapi jauh beda dengan Margo Jazz Community ini.” Cerita Papin, karyawan swasta yang juga seorang gitaris sebuah band beraliran jazz ini.

Pada Festival Java Jazz 2010 kemarin, Margo Jazz Community mendapat kesempatan tampil pada hari kedua pagelaran jazz terbesar di Indonesia tersebut dalam satu panggung tersendiri. Panggung yang berada disisi sebelah kanan food hall itu tampil sekitar 14 band yang merupakan anggota komunitas. Selain itu mereka juga mendapat porsi satu halaman dalam majalah yang di release oleh Java Jazz Festival untuk mempromosikan acara Margo Friday Jazz.

Publikasi yang dilakukan untuk Margo Friday Jazz sebenarnya tidak terlalu luar biasa, Billboard besar hanya terdapat di pintu masuk Mall Margo City, spanduk pun tak terlihat di sekitar lokasi acara. Namun informasi yang disebarkan dari mulut ke mulut oleh para anggota komunitasnya dinilai cukup efektif untuk mempromosikan acara yang dana penyelenggaraannya ditanggung sepenuhnya oleh pihak Margo City tersebut. Pada pertengahan 2009 Incream, sebagai event organizer yang mengemas Margo Friday Jazz membuat gebrakan dengan menayangkannya menjadi sebuah program acara di Jak tv. Acara berdurasi 30 menit tersebut talah memenuhi kontrak sebanyak 23 episode dengan perolehan rating yang cukup lumayan untuk ukuran sebuah tv lokal. Setelah kontrak dengan Jak tv berakhir, mereka kemudian melakukan kerjasama dengan CB channel, yakni sebuah tv lokal Depok dengan durasi program yang bertambah menjadi satu jam dan masih berlangsung hingga sekarang.

Sebenarnya telah banyak acara music jazz yang di adakan di kota Depok. Acara Jazz Goes To Campus yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia merupakan salah satu pagelaran music jazz yang menonjol. Acara yang telah berlangsung selama 32 tahun hingga sekarang tersebut hadir di depok bersamaan dengan berpindahnya kampus UI dari Salemba Jakarta. Kemudian pada tahun 2000-an terbentuk beberapa komunitas dari acara jazz yang sering tampil di daerah Sawangan Depok. Namun beberapa tahun kemudian komunitas tersebut bubar seiring dengan berkembangnya daerah perkotaan depok dan akhirnya para anggota komunitas Sawangan tersebut banyak berpindah ke Margo Jazz Community ini. Musik jazz sendiri merupakan musik yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Improvisasi dari pemainnya dapat menghasilkan harmonisasi musik yang luar biasa. Namun melihat perkembangan musik saat ini, para penikmat jazz berusaha mempertahankan eksistensinya agar tidak tergerus oleh berkembangnya musik-musik industrial yang mendominasi Indonesia. Maju terus jazz lovers!

“BARRY, SI KERITING DARI MENTENG DALAM”

Anak-anak berseragam putih merah berhamburan keluar sekolah siang itu. Seorang wanita berkacamata berjalan menuju gerbang. Dengan mengapit sebuah buku ia berbincang sejenak dengan satpam sekolah dan menunjuk ke arah jalan raya, ternyata ia menyuruh satpam membantu salah satu anak didiknya untuk menyeberang jalan yang cukup ramai siang itu. Tak seorang pun menyangka kalau salah satu alumni dari sekolah ini sekarang telah menjadi calon presiden Amerika Serikat.

Barry, panggilan masa kecil Obama merupakan bocah keturunan afrika amerika. Ia dilahirkan di Honolulu, Hawaii pada tnggal 4 Agustus 1961 dari pasangan Barrack Obama, Sr. seorang pria keturunan Kenya, dan Ann Dunham seorang wanita keturunan Amerika. Saat berusia 2 tahun orang tua Barry bercerai. Ia pun ikut dengan ibunya yang kemudian menikah lagi dengan pria Indonesia bernama Lolo Soetoro. Ayah tiri barry itu kemudian membawa keluarganya pindah ke Jakarta. Selama lima tahun Barry tinggal di daerah Menteng Dalam Jakarta. Lolo adalah Tentara berpangkat letnan yang bertugas di Direktorat Jenderal Topografi TNI AD.

Dalam buku biografinya The Audatcity of Hope, Barry sedikit bercerita tentang masa kecilnya, “keluarga kami tidak berkecukupan pada tahun-tahun awal itu, karena angkata bersenjata Indonesia tidak membayar para letnannya dengan gaji besar. Kami tinggal di sebuah rumah sederhana, di pinggiran kota, tanpa pendingin udara, kulkas atau toilet siram. Kami tidak punya mobil. Ayah tiri saya mengendarai sepeda motor, sementara ibu saya naik bus umum setiap pagi ke kedutaan AS, tempatnya bekerja sebagai guru bahasa Inggris.”

Selama di Jakarta barry bersekolah di SDK Fransiscus Asisia selama 3 tahun dan kemudian pindah ke SD Negeri Menteng 01 Besuki. Pada masa awal sekolahnya di Jakarta, ia sedikit mengalami kesulitan karena sulit untuk berbahasa Indonesia,”nilai bahasa Indonesianya 5. Setelah 4 ampai 5 bulan, Barry baru bisa bisa mengikuti pelajaran itu.” Ucap Isaella Darmawan, guru kelas 1 Barry di SDK Fransiskus Asisia. Sewaktu kecil Barry sering di ledek oleh teman-temannya karena badannya yang tinggi besar dan berambut keriting. Namun, bakat kepemimpinannya memang sudah terlihat sejak kecil. Teman-temannya sering mengikutinya untuk diajak bermain. Permainan yang sering dimainkannya pada waktu kecil adalah petak umpet. Ia melakukannya saat jam istirahat sekolah bersama dengan teman satu kelasnya.

Di lingkungan sekolahnya ia termasuk anak yang rajin dan pandai matematika. Teman-teman sekolahnya sering bercerita bahwa ketika di kelas Barry sering maju secara sukarela untuk menghapus papan tulis. Barry merupakan anak yang supel. Ia bermain dengan siapa pun dan tidak memandang strata ekonomi. “Saya bersekolah di sekolah-sekolah Indonesia dan bergaul dengan anak-anak petani, pelayan, penjahit, dan juru tulis.” Ujar Obama di salah satu bukunya.

Ketika pulang sekolah, Barry sering main ke rumah temannya. Salah satunya adalah Yunaldi Askiar. Rumah yunaldi berada di RT 10 RW 15 daerah Menteng dalam, hanya berbeda satu RT dengan Barry yang tinggal di RT 11. Mereka pertama kali berkenalan saat Johny bersiap untuk berangkat shalat jumat tertawa melihat Barry yang tampak lucu saat memakai sarung. Barry sering memiliki banyak koleksi pistol mainan. Ia sering membawanya untuk bermain. Bahkan Johny pernah di beri satu buah koleksinya tersebut.

Rumah Barry berbentuk arsitektur Belanda dengan halaman yang cukup luas. Di dalam rumahnya banyak terdapat hiasan-hiasan khas dari suku pedalaman, mungkin barang-barang tersebut merupakan koleksi ibunya yangmerupakan seorang antropolog. Ayah Tiri Barry, Lolo Soetoro juga memiliki beberapa hewan peliharaan seperti Monyet, Ular, Biawak. Barry sendiri lebih menyukai untuk memelihara seekor kura-kura yang ia taruh di kolam rumahnya.

Lolo Soetoro dan Ann Dunham cukup disiplin dalam membentuk Barry. Namun mereka tidak pernah melarang Barry bergaul dengan siapa saja. Itu terlihat karena sosok Barry cukup dikenal oleh semua warga kampong di sekitar rumahnya. Bahkan Barry pun sering bermain ke tempat tempat tetangganya dan makan di sana “Makanan favoritnya rendang”. Kata Yunaldi Askiar. Orangtua mereka tidak mengajarkan sesuatu yang ekstrim terhadap Barry, bahkan cenderung moderat. Oleh karena itu, banyak teman-teman Barry masa kecil yang berpendapat bahwa kepribadian Barry yang rendah hati dan supel tersebut banyak terbentuk ketika ia tinggal di Jakarta dengan kondisi masyarakat yang heterogen.

Harapan orang-orang terdekatnya kelak bila Barrack Husein Obama terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat Ke-44 agar tidak melupakan kenangan masa kecilnya di Indonesia dan dapat berkunjung membangun kembali sekolahnya di SDK Fransiscus Asisia maupun SD Negeri Menteng 01 Besuki.

Minggu, 14 Februari 2010

OJO RUMONGSO BISO, NANGING KUDU BISO RUMONGSO


Di sebuah ruangan kantor berita CNN di afghanistan (termasuk orang afghanistan muslim) bersorak sorai atas kematian Abu Zarqawi (seorang pejuang al-qaeda). Euforia tersebut mendadak sunyi ketika ada gambar seorang bapak memakai kaos bertuliskan "STOP WAR IN IRAQ!". ternyata bapak tersebut adalah ayah dari seorang jurnalis Amerika yang digorok lehernya oleh al-qaeda beberapa saat lalu (videonya bisa di lihat di internet dan sudah di tayangkan berkali2 di televisi). Ia lalu berkata "Aku bukannya mendukung al-qaeda, tapi kemarahan bukan dibalas dengan kemarahan lagi. Itulah sebenarnya musuhku yang sesungguhnya, yang telah membunuh anakku di tempat itu."

Pada salah satu tayangan oprah winfrey, seorang narapidana menangis..menyesal seumur hidup telah memperkosa dan membunuh wanita. "sesaat sebelum kutembakkan senjataku di dahinya..ia menatapku..kesakitan..tapi tanpa sorot mata benci sama sekali..lalu ia berkata..'aku memaafkanmu'...". Keluarga sang wanita yang ikut menonton di studio menangis mendengarnya. namun kemudian memaafkan si narapidana di akhir acara. "Jika Rachel(nama wanita itu) masih hidup, pasti ia ingin kami memaafkan kamu.."

Kemudian Dalai Lama yang ditanya perasaannya tentang bangsa cina yang telah merampas tanahnya secara semena2. Dalai Lama hanya menjawab dengan tawanya yang khas, "Bangsa cina adalah tamu di negara kami."

kita serasa ditunjukan...Masih banyak manusia yang rela menyerahkan pipi kiri setelah di tampar pipi kananya. Lalu??? apakah semua kebencian harus di balas dgn kebencian??...apakah kejahatan harus dibalas dengan kejahatan??..apakah semua sindiran harus di balas dengan sindiran pula??..apakah semua makian harus di balas dengan makian??..

OJO RUMONGSO BISO...NANGING KUDU BISO NGERUMANGSANI......